Ada Banyak Cinta yang tidak kamu rasakan disekelilingmu...
"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku. "De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.
"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.
"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
To my luv, thank u 4 d best gift I ever have
Minggu, 31 Agustus 2008
sekuntum Cinta,Subhanallah..
Cinta Warna-Warni,Benarkah...?

Andainya cinta boleh kuberi nama
Maka akan ada namamu di sana
Andainya rindu boleh kutitipkan lewat kuntum bunga
Maka tak cukup satu juta bunga membawanya
Masih dengan senyum kemerahan ku tatap lagi biru layar Hpku. Pelangi.dia tak berubah sedikit pun. Masih tetap nggodain aku, meski dia tahu aku tidak suka, karena itu membuatku tersipu malu, meruntuhkan egoku.
Belakangan ini Pelangi sering mengirim sms berisi puisi. Waktu aku tanya kenapa, dia bilang karena dia cinta. Gedubrakk.!! Bagaimana aku tidak tersenyum kemerahan? Tapi, jujur saja. Aku juga cinta.
Ahh..sudah berapa tahun aku berpisah dengan Pelangi? Empat, lima tahun. Aku masih mengenang sosoknya dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans belel yang disobek bagian lututnya. Meskipun aku ngomel panjang lebar soal cara berpakaiannya, dia cuma mendengarkan sambil nyengir, dan bilang.kamu tambah manis kalo ngomel.dan ucapannya itu sudah cukup membuatku keki, dan berhenti ngomel. Dia memang pintar, tahu kelemahanku. Pelangi, kalo boleh jujur, aku juga rindu.*****
"mbak, masa' ada ikhwan yang ngirim sms aku kaya gini" kata Dina, adik tingkatku, sambil menyodorkan Hpnya. Ku baca beberapa sms, dari pengirim yang sama. Isinya, puisi sanjungan. Aku tersenyum, jadi ingat Pelangi. Sudah dua hari dia tidak sms, kangen juga.
"gimana, mbak?"
"ikhwannya lagi futur kali, dik. Kamu bales apa?" aku mencoba menjawab searif mungkin.
"belum aku bales. Makanya aku nanya ama mbak. Sebenarnya aku mau marah mbak, lha wong ikhwan, udah angkatan atas, udah tahu adab bergaul sama lawan jenis, kok malah ngirimnya kaya gini. Ga malu apa! Apalagi aku kan adik tingkatnya. Sebel kan mbak. Tadinya sih, aku fikir, salah kirim. Tapi kok sampai lima kali. Ga mungkin kan mbak. Nggak cuma itu mbak, dia juga suka missed call tanpa alasan. Malam-malam juga. Mengganggu orang tidur. Uuhh..Kesel! Sebel!"
"iya, ya. mbak ngerti. Ayo istighfar dulu, udah ghibbah...yah, mungkin dia memang salah.."
"lho, kok mbak mbelain dia sih. Mentang-mentang teman seangkatan ya?"
"aduh, dik..bukan begitu. Kalo mau melihat masalahnya, jangan hanya dari satu� sisi saja. Kita sendiri juga harus instropeksi lho. Kenapa dia bisa sms seperti itu ke adik? Mungkinkah..? Yach..afwan"
"ga papa mbak, Dita ngerti maksud mbak. Tapi, seingatku, aku ga pernah berhubungan sama dia. Eh, pernah! Itu juga cuma satu kali, waktu kepanitiaan kemarin. Tapi, waktu itu menurutku hubungannya biasa aja, sama kaya hubungan ikhwan-akhwat lainnya, hubungan karena amanah."
"alhamdulillah. Yach, kalo gitu� diingetin aja, dik. Mungkin dia lagi khilaf. Tapi, pake bahasanya jangan kasar-kasar. '
"iya ya mbak. Dita coba deh. jazakillah mbak. Afwan, aku duluan, ada kuliah. Assalamualaikum."
"wa'alaikum salam warahmatullah."
Bagaimana reaksi Dita seandainya dia baca sms Pelangi ya? Lucu juga kayanya.Tapi, kalo sama Pelangi kan aman. Ga mungkin neko-neko.� Pelangi, kamu lagi ngapain sekarang? Missed call ah. Eh, nggak mau. Nanti dia bales sms. Kenapa? Kangen ya? Uuhh.kan tengsin. Jatuh deh harga diri.
*****
tiiit.tiit.tiiit
Hpku berbunyi. Cepat-cepat kuambil HP di dalam tas. Sms. Semoga aja dari Pelangi. Ohh, bukan. Undangan rapat. Yachh..kecewa deh. Pelangi kenapa ya? Sudah satu minggu, nggak kirim sms atau missed call. Jangan-jangan.udah punya yang baru? Yang lebih diperhatikan? Ihh, kok aku jadi gini sih? Apakah itu artinya aku cemburu? Cemburu gara-gara Pelangi? Bisa kubayangkan reaksi Pelangi kalo dia tahu. Mungkin sama waktu aku marah, karena dia pergi tanpa pamit ke aku.
"kok, Pelangi pergi ga pamit sih? Kita kan udah punya rencana buat hari minggu ini. Jadi gagal, deh."
Pelangi dengan senyum nyengirnya Cuma berkata " iye, maap. Kemarin buru-buru, ga sempat pamit. Lagian perginya cuma dua hari kan ga papa. Masa' udah kangen."
Oh, God! Mulai lagi penyakitnya, bikin orang keki.� " eh, siapa yang kangen. Aku cuma nggak enak sama anak-anak. Mereka pada nanyain kamu ke aku. Emangnya aku baby sittermu apa! Trus, si Sari juga nanyain kamu tuh. Katanya kamu ada janji ama dia."
" Ohh.aku tahu." Pelangi manggut-manggut sambil tersenyum. Senyum itu. O..o aku tahu arti senyum itu. Aku bakalan dibikin keki. "cemburu ma Sari ya?" Tuh, kan. Tapi kali ini aku ga mau kalah. " siapa juga yang cemburu. GR amat. Amat aja nggak GR."
"iye, iye. Pelangi salah. Tapi, jangan marah ya. Pelangi ga tahu bagaimana menghadapi hidup ini kalo nggak ada Dinda. Pelangi nggak bisa mbayangin, kalo harus berpisah dengan Dinda. Dunia pasti terasa sempit, gelap, dan beku. Pelangi akan.bla..bla..bla.Kututup telingaku sebagai tanda protes karena dia mulai mengeluarkan kamus puisinya. Nggomballl!
*****
Dua minggu berlalu, Pelangi masih tetap tidak memberi kabar. Akhirnya kuberanikan diri kirim sms. Sekedar menanyakan kabar dan kesibukannya. Tak apalah kalo aku dibikin keki lagi. Daripada aku cuma bengong mikirin dia aja, paling tidak aku melakukan satu tindakan. Toh, tidak ada salahnya kan.?
Satu, dua hari berlalu. Pelangi tidak membalas smsku. Kenapa? Pelangi, apakah kamu baik-baik saja? Jangan-jangan dia sakit lagi. Ingatanku melayang pada sosok tirusnya, ketika dia terpaksa di rawat inap selama dua minggu di rumah sakit, karena maag yang sudah akut, ditambah dengan tifus.
*****
" Pelangi, kok bisa sampai begini sih? Kalo butuh bantuan, bilang aja. Jangan semuanya dikerjakan sendiri."
" minta bantuan Dinda? Nggak ah! Tengsin. Lagipula, ini kan urusan keluarga Pelangi. "
"tapi, kalo kejadiannya kaya gini. Yang sedih kan kita semua. Kamu memang keras kepala. Tidak pernah mau mendengarkan Dinda. Kamu selalu pura-pura sehat di depan Dinda. Padahal kamu menahan sakit. Iya kan? Kenapa sih Pelangi tidak mau berterus terang ke Dinda. Apakah Dinda tidak pantas untuk.."
"ssstt." Serentak Pelangi menempelkan telunjuknya ke mulutku, dan mengusap aliran bening dari mataku. Masih dalam isakanku, aku berucap lirih, " Dinda nggak mau kehilangan Pelangi."
"eh, ngomong apaan sih. Pelangi kan masih di sini. Allah masih sayang ama Pelangi kok. Dinda nggak kehilangan siapa-siapa. I'll be here for u, honey" Pelangi, meskipun sakit, dia tetep nggombal.
"janji ya, kalo kamu merasa tidak sehat, bilang ama Dinda. Pokoknya Dinda mau maksa Pelangi cuti kerja. Ayo, janji." Kusodorkan jari kelingkingku dan Pelangi pun segera menautkan kelingkingnya.
"Beruntungnya, Pelangi punya Dinda, yang selalu mengkhawatirkan keadaan Pelangi. Dunia terasa seperti taman surga yang tak mengenal kegelapan. Di mana-mana yang ada hanya..bla.bla.."
Kucubit pinggang Pelangi karena dia nggombal lagi. Rasain lu.
*****
Ayah� Pelangi meninggal ketika dia baru kelas satu SMA. Dan sejak itu, dia mulai bekerja parttime di supermarket, untuk membantu ibunya menghidupi keluarga serta membiayai sekolah tiga adiknya. Ibunya sendiri buka warung makan kecil di rumah. Sering kali aku mendapati Pelangi tertidur di kelas, karena kecapaian, setelah malamnya kerja. Seandainya aku bisa membantumu, tapi.ekonomi keluargaku juga pas-pasan. Pelangi.
Pelangi juga sering mengirim tulisan ke berbagai majalah. Kalo yang satu ini, bukan untuk mencari penghasilan, karena honornya memang tidak seberapa. Tapi, karena dia senang menulis, mungkin darah seni ayahnya mengalir dalam dirinya, dan jujur kuakui, tulisannya memang bagus. Itulah mengapa dia sering mengucapkan kata-kata puitis yang lebih sering kusebut nggombal.
Pelangi lebih senang menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku sastra daripada majalah-majalah islami yang kusodorkan padanya.� Bahkan,� cara berpakaiannya pun dikaitkan sama hobi sastranya itu. Kalo aku bilang, kenapa pake jeans belel? Kan ada pakaian yang lebih nyar'i? Dia cuma bilang, namanya juga seniman. Kamu nggak seneng punya teman seniman? Kan enak bisa digombalin setiap hari?
*****
Sudah tiga puluh menit aku menunggu Pelangi. Huuh, anak itu memang tak pernah belajar soal waktu. Tadi pagi, sehabis subuh, Pelangi sms. Sms tersingkat yang pernah kuterima dari Pelangi. Pelangi mau ke rumah Dinda, jam 10. Hanya satu kalimat itu. Ketika aku balik bertanya, tentang kepulangannya yang mendadak, aku hanya mendapatkan missed call. Tapi, aku sangat senang sekali. Kubayangkan sosoknya yang tinggi kurus dengan rambut cepaknya, memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang yang selalu digulung, dan jeans belel. Pelangi, aku rindu.
Aku sudah berdandan secantik mungkin. Bahkan 20 menit kuhabiskan waktuku cuma untuk memilih gamis mana yang akan kupakai. Sudah kurancang pertanyaan-pertanyaan yang akan kutanyakan. Juga rencana untuk menghabiskan waktuku bersamanya. Paling tidak, dia pasti akan beberapa hari di kota ini. Jadi aku punya waktu untuk mengajaknya ke tempat-tempat yang biasa kita kunjungi dulu.
Satu jam berlalu. Pelangi belum juga muncul. Aduuh. Kenapa ya? Apa aku telepon aja? Ah, jangan. Mungkin Pelangi masih di rumah saudaranya yang ada di kota ini. Atau masih berputar-putar di toko, nyari hadiah untukku? Ah, GR amat. Bertemu Pelangi saja sudah syukur banget. Nggak perlu pake hadiah segala.
"assalamualaikum" terdengar suara mengucap salam. Pelangi? Ah, bukan. Bukan suaranya. Sedikit malas, aku beranjak membuka pintu.
"wa'alaikumsalam"
Ahh, seorang ikhwan dan akhwat. Sepertinya suami istri. Mungkin teman ibu.
"ya, cari siapa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, pasangan itu malah saling pandang dan tersenyum. Senyuman sang istri. seperti menyembunyikan sesuatu. Karena tak juga dijawab, akhirnya aku bertanya lagi. " afwan, mau bertemu siapa?"
Kali ini akhirnya sang suami angkat bicara. "oh..eh..afwan ukh. Jadi bengong. Ada yang mau bertemu anti" katanya sambil melirik sang istri yang masih saja tersenyum.misterius.
" s..s.. saya? afwan, tapi ini siapa ya? afwan kalo saya lupa, tapi.
Belum selesai aku meneruskan kalimatku, tiba-tiba sudah ada satu ciuman mendarat di pipiku, dari sang istri tentu saja. Allahu akbar. Gimana ini? Bagaimana aku bisa menyembunyikan rasa malu ini? Di depan ikhwan, saudara-saudara! Siapa sih akhwat ini. Seenaknya saja bikin malu orang.
Aku masih terdiam, karena aku tidak tahu harus berkata apa. Penyakit lama, kalo malu, jadi blank. Aku cuma melihat, sang istri tersenyum, dan suaminya yang melihat adegan tadi, cuma menunduk sambil menahan tawa kecilnya. Aduuh.aku semakin malu.
" tuh kan, lihat sendiri kan kak. Dinda ini orangnya memang pemalu"
Allahu akbar! Suara ini. Benarkah pendengaranku ini? Aku masih menatap tak percaya sang istri. Kuperhatikan dari ujung kepala sampai kaki. Jilbab biru muda, gamis biru kotak-kotak. wajah yang tersenyum itu.
" bangun, Nda. Ini bukan mimpi kok. Masih nggak percaya? Mau di."
Begitu aku sadar bahwa akhwat di depanku adalah dia, aku langsung menghambur memeluknya.
" pelangi."
Yah, dia adalah Pelangi. Pelangi yang tomboy telah beganti menjadi seorang akhwat. Subhanallah, akhirnya Kau berikan juga hidayah itu untuk Pelangiku.
" eh, Dinda, udah donk meluknya. Kasihan dede' yang di dalem nih" kata Pelangi seraya mengusap perutnya.
" eh, aduhh, afwan saking senengnya Dinda sampai lupa. Masuk dulu yuk, kita ngobrol di dalam."
Aku berjalan menggandeng tangan Pelangi, sementara sang suami mengikuti kami dari belakang. Sambil berbisik, aku berkata " andainya rindu boleh kutitipkan lewat kuntum bunga, tak cukup satu juta bunga membawanya."
Pelangi tertawa seraya menoleh ke belakang dan berkata " kak, ade' berhasil."
*****
buat para pelangiku,
jangan kau paksa aku berucap cinta dan rindu
tetap yakinlah bahwa aku cinta dan rindu
meski itu tak terucap
---------
Perempuan Paling Cantik didunia:ISTRIKU..

Pukul 4.05, alert di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30, ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, urusan dua anakku, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.
Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap.
Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. AKu lupa memandangi wajahnya pagi ini. "Nda, kamu cantik sekali hari ini," kataku memuji.
Ia tersenyum. "Bang tebak sudah berapa lama kita menikah?" Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya bersama ust. Bambang untuk meminangnya."Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan aku terima nikahnya Herlinda Novita Rahayu binti Didi Sugardhi dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai." Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. "Kita sudah delapan tahun Bang." Katanya memberikan tas kerjaku.
"Aku berangkat yah, assalamualaikum," kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.
Aku buru-buru. "Hati-hati yah dijalan." Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. sayang, KRL tak bisa menunggu dan pukul 7.00 aku harus sudah stand by di ruang studio sebuah stasiun radio di Jakarta.
Aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata Dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.
Sekilas, menyelinap dedaunan kehidupan delapan tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).
Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.
Dan, ternyata benar. Kuliahnya dan kuliahku bernasib serupa. Berantakan. Waktuku habis tersita untuk mengais lembar demi lembar rezeki yang halal. Sementara ia harus merelakan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri untuk si Abang, anakku.
Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, �kapal�ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.
Ternyata, memang benar Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.
Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si Abang dan Ade yang mau berangkat sekolah, mempersiapkan tugas-tugas untuk pekerjaanya, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.
Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.
Sayangku,kumohon dekat di sini
temani jasadku yang belum mati
Aku melayang
Kamis, 28 Agustus 2008
Diary Hati..
Hari ini aku bahagiaaa baget, ry. Pagi-pagi sekali Dad �n Mom bangunin aku. Mereka mencium pipiku dan ngucapin happy b' day. Tapi setelah itu aku langsung disuruh bangun buat shalat shubuh. Yee, kirain mau kasih hadiah. Tunggu dulu. Pas sarapan, Mom kasih kado berpita merah jambu. Katanya dari Dad �n Mom. Langsung dech aku buka. Kamu tahu isinya apa? Jilbab, lagi? Ya, ini adalah jilbab kelima yang dihadiahkan oleh Dad �n Mom sejak ultahku yang ke dua belas. Dan seperti biasa ada secarik kertas bertuliskan �SEMOGA TETAP ISTIQOMAH'. Hm� Dad �n Mom ini, kayaknya gak percaya dech kalau aku sudah bisa beristiqomah berjilbab semenjak masuk SMP dulu. Oh iya hampir lupa, bang Aldi kasih aku sebuah novel dan tiga buah buku kumpulan cerpen remaja islami. Wah senangnya. Nggak biasanya lho abangku yang satu ini ngasih aku hadiah buku banyak begini. I love you all.
Di sekolah aku habis-habisan dikerjain temen-temen sekelas. Mulai dari dicuekin sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, pas mau pulang dibanjur air beraneka rupa, dilemparin telor, ditaburin tepung terigu. Pokoknya jail abis. Tapi aku seneng mereka ingat hari ulang tahunku. Thanks dude.
06 Februari 2003
Dear diary�
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.
Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi � utamanya Rohis �, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he �.
08 Februari 2003
Dear diary�
Aku sayang Dad �n Mom, namun kadang-kadang aku nggak suka sama sikap mereka yang sok tahu. Gimana nggak sebel coba. Tadi pagi pas sarapan aku minta ijin buat datang ke pestanya Sherly, teman sekelasku. Kakaknya � Dani � baru menyelesaikan studinya di Aussie, jadi Sherly and Dani kompakan mengadakan syukuran yang nanti diadakan bertepatan dengan hari Valentine. Biar seru katanya.
Kamu tahu reaksi mereka, Ry? Aku diberondong banyak banget pertanyaan. Mulai dari Pestanya siang atau malem? Yang dateng siapa aja? Acaranya ngapain aja? Pulangnya jam berapa? Entar dateng dan pulang sama siapa? dan banyak lagi. Kenapa sich mereka kok heboh banget, apalagi Bang Aldi. Abangku yang satu ini kayaknya nggak suka dech ngeliat adiknya ini seneng dikit ajah.
Mati-matian aku meyakinkan mereka. Aku bilang pestanya jam delapan malem, yach paling-paling sempe jam sebelasan gitu. Emang agak malem sich. Khan biasanya aku harus sudah ada di rumah paling malem jam sembilanan gitu, kasian yach. Aku bilangin juga bahwa aku nggak dateng sendirian kok nantinya. Ada si Erin, Wiwi, Evelyn, Siska dan Doni, pacarnya Siska yang nanti jadi sopir dan siap antar jemput. Mengenai acaranya, ya apalagi? Namanya juga pesta syukuran. Pasti ada acara makan-makan, ngumpul-ngumpul bareng temen-temennya Sherly dan kakanya, ngobrol banyak hal. Itu ajah kok.
Kata Mom gimana besok dech dan itu sudah cukup membuat kesan bahwa aku tidak akan diizinkan.
12 Februari 2003
Dear diary�
Kadang-kadang kepikiran lho buat sesekali ngelanggar apa yang dilarang Dad �n Mom. Kayak apa yach rasanya?
Bukankah selama ini aku sebagai seorang anak tergolong penurut. Aku nggak pernah bertingkah yang macem-macem, sebagai seorang perempaun aku turuti perintah Mom untuk menutup aurat sejak masuk SMP, nilai rapotku tidak terlalu jelek, walaupun belum dapat dikatakan memuaskan. Tapi aku selalu berusaha lho untuk memenuhi semua kriteria anak baik di mata Dad �n Mom.
13 Februari 2003
Jadi rencananya gini ry�
Besok siang � mungkin sampai sore, I hope so � ada rapat untuk acara pelantikan anak-anak PMR yang baru (gini gini aku memiliki jiwa sosial yang tinggi lho). Terus aku bilangin aja ke Mom minta izin pulang agak terlambat, mungkin agak malem. Baju buat ke pesta akan aku bawa pas paginya. Berat dikit nggak pa pa, yang penting Mom nggak curiga. Nah, pas sorenya Siska and the gang suruh jemput aku disekolah. Dengan begitu aku bisa bolos rapat, bilang aja ada keperluan mendadak.
Gimana? Rencanaku oke khan.
14 Februari 2003 ultahnya Sherly
Dear diary�
This is the day. Waktu berangkat tadi pagi, aku ngelihat sorot mata Mom mencurigai sesuatu. Aduh aku jadi gemeteran waktu itu. Tapi bukan Adella namanya kalau enggak bisa merayu Mom sedemikian rupa. Namun bagaimanapun juga, sorot mata Mom menyiratkan sesuatu. Apa yach?
Siang sampe sorenya aku rapat PMR. Sebenarnya aku nggak konsen, tapi mau gimana lagi. Namanya juga demi memenuhi undangan teman.
And then, let the party started. Tepat jam enam sore Siska and the gang datang. Langsung aku cabut dari rapat setelah sebelumnya ganti kostum (cie�) di ruang OSIS. Kulihat Siska, Erin, Wiwi dan Evelyn nampak cantik dengan pakaian yang serba pink, seperti juga jilbab dan pakaian yang aku kenakan. Emang malam ini khan dress coat-nya serba pink, namanya juga hari valentine.
Tiba di rumah Sherly yang berada di kawasan elit kota ini, kami langsung masuk. Sherly menyambut kami di ruang tengah. Ia memperkenalkan Dani kepada kami. Lucu juga� Aku, Erin, Wiwi, dan Evelyn sepakat. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruangan pesta akan berlangsung.
Tempat pesta itu terletak di pinggir kolam, di sayap kanan rumah mewah itu. Tempat itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga atmosfir valentinenya begitu terasa. Balon-balon berbentuk hati, pita-pita yang dibentangkan dari sudut ke sudut, serta lampu-lampu hias semuanya berwarna pink. Di salah satu sudut � food court � tertata rapih aneka hidangan yang mengundang selera sementara di sudut lainnya ada sebuah panggung kecil yang menjadi sentra acara. Dentuman house music membuat suasana pesta kian meriah. Undangan yang datang sudah cukup banyak. Kebanyakan teman-teman Dani sewaktu SMU dulu, sesisanya adalah teman-teman Sherly yang sudah kukenal. Kami pun asyik ngobrol ke sana ke mari sebelum acara dimulai. Dalam keramaian itu aku merasa ada sepasang mata yang sejak aku datang tadi selalu memperhatikan aku. Aku mencari-cari kesekeliling. Ah, nggak ada yang�. Tunggu dulu, kayaknya Dani ngeliatin aku terus dech. Gimana nggak diperhatiin coba, aku khan eye catching banget. Aku satu-satunya gadis berjilbab di pesta itu, atau� Ah aku aja yang kege-eran kali yach.
Aku menikmati acara demi acara dalam pesta itu, sampai akhirnya acara blind date itu membuat perasaanku tak menentu. Saat itu semua undangan dipasang-pasangkan dan mereka di beri waktu satu jam untuk saling mengenal untuk selanjutnya tiap-tiap pasangan akan disuruh tampil keatas panggung menyatakan perasaan mereka. Waktu itu entah disengaja atau tidak aku berpasangan dengan Dani. Semula aku tidak memiliki perasaan curiga apa pun juga walaupun aku tahu tujuan acara ini agar tiap undangan yang jomblo bisa mendapatkan pasangan. Aku tahu reputasi Dani sebagai play boy dari Sherly. Malam ini Dani tidak bertingkah macam-macam, kok. Kami hanya ngobrol tentang pengalaman dia di Aussie. Aku merasa cukup aman dengan pakaianku sehingga cowok play boy macam Dani nggak akan berani macam-macam. Namun dugaanku salah. Di sela-sela obrolan kami saring aku dapati mata Dani liar memperhatikan sekujur tubuhku. Dari ujung jilbab sampai ujung kaos kaki yang aku kenakan. Dari bau nafasnya aku tahu jenis minuman apa yang berada di gelas yang ia pegang, walaupun ia tidak � atau mungkin belum � nampak mabuk. Dan satu hal yang membuat keputusanku bulat adalah saat ia berusaha memegang tanganku, bahkan akan merangkulku.
STOP. Dengan tergesa dan tanpa permisi aku berlari pulang. Meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapku heran, meninggalkan Dani dengan kegagalannya menyentuhku, meninggalkan hingar bingar pesta yang kian menggila, serta meninggalkan kebodohanku datang ke pesta semacam itu. Aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku menyesal dan merasa berdosa telah melakukan ini semua.
Sampai di rumah sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit. Kulihat Mom menungguku di teras. Aku langsung menghambur ke pelukan Mom dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata yang terucap. Mom membimbingku ke kamar dan menyuruhku istirahat.
15 Februari 2003
Diary�.
Aku malu sekali atas kejadian kemarin. Ketika sarapan, kulihat Dad, Mom dan bang Aldi saling diam. Aku sudah siap apabila nanti aku akan disidang habis-habisan. Aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun tidak ada yang berkomentar. Semua orang asik dengan sarapannya masing-masing. Kuberanikan diri berkata Adella minta maaf atas kejadian semalem. Semua saling pandang. Dad angkat bicara. Katanya Semoga kamu dapat mengambil pelajaran atas kekhilafan kemarin. Oh Dad, kenapa Daddy tidak marah atau menghakimi aku? Mom? Mom menarik nafas sebelum berkata Sekarang kamu tahu khan alasan kami melarangmu? Ya, lebih dari mengerti, Mom. Bang Aldi diam saja.
Satu hal lagi Mom, tantang rapat itu Adella tidak bohong. Mama hanya tersenyum dan berkata Tentu saja sayang, Mom tidak pernah mengajarkan anak Mom berbohong khan? Terima kasih Mom atas kepercayaannya. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi, Mom.
17 Februari 2003
Dear Diary�
Tiga hari setelah kejadian di pesta itu Sherly minta maaf. Aku bilang itu bukan kesalahannya. Tapi tetap saja dia merasa berdosa karena telah mengundang aku. Sudahlah kita lupakan saja kejadian 14 Februari yang kelabu itu.
20 Februari 2003
Diary�
Hari ini Evelyn curhat. Katanya, semua cowok itu brengsek. Evelyn ingat kejadian di pesta Sherly. Ketika ia melihat aku lari keluar dari pesta itu, ia sedang bersama sorang laki-laki yang baru ia kenal malam itu. Laki-laki itu berkata Wah Dani lagi apes hari ini. Nggak biasanya ada cewek yang nolak dia. Baru pemanasan ajah udah lari. Gimana kalau� Evelyn tidak harus melanjutkan kisahnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan Dani dan teman-temannya dalam pesta itu. Syukurlah keputusanku meninggalkan pesta itu menyadarkan Evelyn, Wiwi, Erin serta teman-teman sekelasku � terutama yang wanita � untuk menyadari ada apa di balik pesta itu sekaligus menggagalkan rencana Dani cs.
Aku tidak habis pikir, seorang wanita berjilbab saja masih menjadi sasaran mata jalang laki-laki yang haus syahwat, apalagi mereka yang pada saat pesta itu menggunakan pakaian serba terbuka.
24 Februari 2003
Dear diary�
Hari ini aku pinjam majalah remaja edisi Valentine yang di beli Wiwi kemarin. Tentu saja isinya semua tentang Valentine. Dari acara valentine yang paling romantis, pernak-pernik valentine, pakaian yang asik buat nge-date di malam valentine, serta rencana artis-artis � baik lokal maupun internasional � dalam merayakan valentine. Kayaknya semua itu nggak cocok dech sama aku. Terlalu menyeramkan dan membuat bulu kudukku berdiri, apalagi bila ingat kejadian di pestanya Sherly itu. Hi�..
28 Februari 2003
Diary�
Malam ini hujan turun cukup deras memberikan sensasi kesejukan di hati ini. Hilang sudah kekeringan yang selama beberapa bulan terakhir mencengeram bumi. Entahlah, aku ingin agar bulan Februari ini segera berakhir agar dapat kugoreskan lembar kisah baru di lembaranmu ini. Biarlah semua kenangan buruk di bulan yang mereka sebut �Bulan Cinta' larut bersama tetes-tetes airu hujan yang terserap bumi.
Have a nice sleep, Adella. Semoga mimpi indah.
Melati Itu Pernah Terluka
*****
"A..ti..ka..?!." Sejenak Nisa tertegun melihat sosok yang ada di hadapannya. Hampir saja ia tak percaya bahwa wanita itu adalah sahabat lamanya.
"Iya Nisa, aku Tika!." Mereka saling berpelukan melepas rindu. Hampir 7 Tahun sudah perpisahan itu. Akibat sebuah pertengkaran yang menorehkan luka di hati Atika!. Dan Nisalah orang yang patut dipersalahkan dalam hal ini!.
Dulunya mereka adalah sahabat karib, kemana pergi selalu bersama. Tika dengan kekuatan fisiknya bak bodyguard yang selalu melindungi Nisa. Ditambah kelebihannya dalam lomba lari, lengkaplah sudah, namanya terkenal. Ia juga pintar mencari uang dengan berdagang kecil-kecilan, sehingga tidaklah heran walau keluarganya tergolong sederhana namun uang jajannya bisa sepuluh kali lipat dari anak-anak pejabat. Suatu ketika,
"Boleh aku menumpang di rumahmu Nisa?.. kakak ipar mau memperkosaku!, alhamdulillah Allah melindungiku. Ini sudah kedua kalinya!."
Nisa terkejut setengah mati mendengar berita itu, "Innalillaahi.. orangtuamu tahu hal ini?.." Wajah pucat di depannya mengangguk, "Jalan terbaik Beliau menyarankan aku pergi!, karena jika sebaliknya, kabar buruk ini akan tersebar dan keluarga kami akan malu!."
Nisa bertanya-tanya dalam hati, kenapa putusan orangtua Atika tidak adil? kenapa Beliau memilih manusia tak bermoral itu daripada anak kandungnya sendiri?!.
Setelah menceritakan musibah yang menimpa sahabatnya, Orangtua Nisa turut prihatin. Sejak saat itulah Atika menjadi bagian dari keluarga Nisa.
Setahun, dua tahun.. empat tahun berjalan, kebersamaan mewarnai mereka. Namun menginjak tahun kelima.. saat sibuk menghadapi ujian SMA, tanpa disengaja Nisa berkata dengan nada emosi pada Atika, gadis itu hampir tak punya keinginan untuk lulus, ia hampir tak pernah menyentuh bukunya.
"Bagaimana mungkin kamu bisa jadi orang sukses kalau tak punya usaha untuk itu Tika?!." Takk!, kata-kata Nisa begitu pedas terdengar, ia sadar selama ini hanya menumpang, hidup dari belas kasihan orang.
Keretakan hubungan mereka dimanfaatkan Andini, entah bagaimana keesokan harinya Atika pamit pada orangtua Nisa, walau dengan alasan yang cukup kuat. Sementara Nisa dengan perasaan bersalah menumpahkan kepedihannya dengan belajar mati-matian mengejar kelulusan, akhirnya kedua sahabat itu semakin jauh, Nisa melanjutkan studynya ke Yogya.
Waktu yang lama membuat segalanya berubah. Melati yang pernah dilukainya itu seakan tak pernah menyimpan dendam sedikitpun. Nada bicaranya, tingkah lakunya, senyumannya, semua terasa tulus dan indah. Nisa mendesak Atika untuk bercerita.
"Usai pamit dari rumahmu Nisa, aku betul-betul bingung!, Dini yang menyarankan aku pergi mau bertanggung jawab, ia meminta ibunya mempekerjakanku. Alhamdulillah aku diterima menjadi penjaga sekolah, walau gajinya kecil, aku bersyukur bisa mandiri.�
Pekerjaanku setiap hari menimba air, mengisi wc guru dan murid sampai penuh, jauhnya minta ampun.., aku juga harus menyapu sekolah dan memotong rumput.
Tenaga yang kukeluarkan tidak sesuai dengan makanan yang kukonsumsi, bayangkan saja dengan uang segitu aku hanya mampu makan nasi dengan ikan asin, kadang aku memetik kangkung liar untuk dijadikan sayur.
Mungkin Ayahmu tak tega melihat keadaanku, beberapa kali Beliau memergokiku sedang menebas rumput. Suatu hari ia menawarkan bekerja di rumah Wakil Gubernur dengan gaji lumayan tinggi, namun aku masih teringat akan pertengkaran kita. Begitu polosnya kuminta Bu Mulyani (Ibu Andini) untuk mengambil sikap dalam masalah ini. Beliau seakan tak ingin melepaskanku, aku dimintanya membuat surat perjanjian, jika sudah bekerja selama setahun, aku harus diangkat menjadi pegawai negeri!. Wajah ayahmu berubah ketika mendengar permintaanku.
Tak lama kemudian ayahmu memberi khabar bahwa tempat yang ditawarkannya sudah terisi orang!. Aku bisa membaca sirat kekhawatiran dimatanya melihat keadaanku. Beliau meninggalkanku setelah memberi sejumlah uang. "Jaga dirimu baik-baik Atika.." katanya. Aku nangis.
Akhirnya aku kembali pada pekerjaan semula, gajiku dinaikkan hampir 2 kali lipat atas prestasiku menangkap maling yang ingin mencuri komputer sekolah. Satu lawan satu aku menang!. Aku juga mulai meningkatkan penghasilan, berjualan kacang goreng, es dan manisan, dari hasil keringat itulah aku bisa membeli kulkas.
Suatu ketika musibah dasyad menimpa lagi, sekolah dimasuki maling untuk kedua kalinya!. Mereka ramai sekali Nisa.. sedangkan aku hanya sendiri. Letak sekolah itu terlalu jauh dari tetangga yang akan mendengar teriakanku untuk minta tolong, aku memilih diam.
Esok harinya Bu Mulyani marah besar,
"Kamu ini bagaimana sich Atika! diserahi tangung jawab tapi tak becus!, kamu kan perkasa kenapa tidak melawan?!. "
Semua Guru membelaku. Mereka bersyukur aku selamat. "Alhamdulillaah Tika kamu tidak apa-apa, jika kamu keluar entah apa jadinya.." Kata-kata itu membuat aku sedikit terhibur. Tapi Bu Mul! Beliau masih terus menyalahkanku, bahkan polisi sendiri dimarahinya, ia menganggap komputer-komputer itu lebih berharga daripadaku!. Telah habis rasa sabar ini, tanpa bisa mengendalikan emosi aku melawan.
"Saya memang wanita perkasa Bu! saya bisa melawan pencuri jika satu lawan satu!. Ini pencurinya ramai sedangkan saya sendiri. Apakah saya mesti menyerahkan diri?!, dan jika saya diperkosa mereka, apa ibu bisa mengganti kesucian saya?!.. dan menjamin masa depan saya yang sudah suram?!".
Bu Mul terdiam!. Sejak saat itu Beliau tak lagi memperdulikanku. Aku seakan hidup segan mati tak mau berada di rumah itu, kuputuskan untuk pp (pulang pergi) dari rumah ke sekolah. Ternyata musibah tak hanya sampai di sini, pencuri yang tahu rumah itu kosong mengambil kulkasku. Aku stress Nisa.. ditambah kematian ayah, seperti orang hilang ingatan, aku suka termenung-menung sendiri!.
Ibu tak tahan melihat keadaanku, Beliau mohon pada orangtuamu untuk menerimaku lagi. Akhirnya aku kembali.
Sampai suatu ketika, ada kenalan orangtuamu dari Malaysia mengajakku bekerja pada putrinya. Aku menjadi TKW di negeri orang dengan gaji lumayan. Alhamdulillaah.. sejak saat itulah kehidupanku mulai berubah!. Aku bisa membantu merehab rumah orangtua, memberi pinjaman modal saudara-saudaraku, menghadiahkan ponakan mainan dan uang, membeli kebun, membiayai seorang yatim yang miskin untuk melanjutkan sekolah sampai tamat SMA, dan.. aku punya tabungan untuk modal usaha jika Allah mengizinkanku berumah tangga!."
Nisa terharu mendengar penuturan sahabatnya. Sebuah cerita panjang yang penuh duka, namun berujung kebahagiaan.
"Maafkan segala kesalahan Nisa ya Tika..!" Ucap Nisa dengan butiran air mata.
Atika memegang lembut jemari tangannya. "Tidak Nisa, kamu tidak salah! lewat dirimu Allah menyadarkanku untuk memperbaiki diri dan penghidupan!. Aku memang tidak suka membaca buku.. tapi aku selalu membaca Firman Allah dan meresapinya dalam setiap tarikan nafasku!."
Nisa begitu bahagia atas perkembangan pesat sahabatnya, keesokan hari ia minta Ayuning menemaninya mengantar Atika ke Bandara.
"Nisa sering memikirkanmu Tika!. Ia begitu bahagia mendapatimu sebagai Melati yang berkedudukan tinggi!."
Atika tak mengerti apa yang dikatakan Ayuning, sementara Nisa hanya tersenyum mendengarnya. Akhirnya.. perpisahanpun tiba.
"Jaga dirimu baik-baik sayang..!". Ucap Nisa lirih sambil memeluk dan menciumi Melatinya. Tika tegar berusaha keras menyembunyikan tangis. Ia melambaikan tangan pada keduanya sambil berucap,
"Jangan khawatir!, insya Allah.. aku akan pulang dengan sejuta kesuksesan!."
Atika terlihat semakin mengecil, dan akhirnya.. hilang!. Serasa mimpi, Nisa terjaga dan mengajak Ayu untuk pulang.
"Melati itu pernah terluka, Ayu.. rasa sakit menyadarkannya untuk bangkit!, berusaha menjadi manusia yang lebih baik!. Semoga Allah meridhai seluruh perjuangannya".
Rabu, 27 Agustus 2008
Icha...., Allah menyayangimu
Buat Mbak Icha,Pinjem namanya Yach
Sejak itu. Icha gak pernah lagi curhat ke orang lain. Pikirnya malah tambah runyam. Wajar saja. Si Faisal yang banyak digandrungi wanita. masih saja tergila-gila dengan icha. Semua teman-temannya mafhum. Icha memang duplikatnya Dian sastro. Bedanya. Icha berjilbab. Banyak temannya yang menyayangkan. Keputusannya dulu untuk berjilbab besar. Duh icha, dikemanain tuh rambut indah sunsilk?ucap dini Temanya suatu hari. Duh..duh..Kasian icha Dasar gaul! Orang berjilbab kok, dianggap aneh.. trus gimana dong yang masih suka pake U can see! Malah lebih parah ding!. Gak pa pa..Tapi ada juga sih nilai positifnya. Boim dkk yang sejak dulu sering ngegangguin icha, dimanapun dan kapanpun. Dan jadi pelopor icha fans club . Sekarang gak berani lagi. Paling Banter kalo icha lewat. Mereka Cuma bilang awas, ada ustadzah cakep lewat. Hehe..he Akhir-akhir ini icha merasa hidupnya berubah. Dari seorang remaja menjadi seorang wanita dewasa. Sebagai wanita normal dia juga tertarik pada pria. Cuma untuk gharizah an nau ini, kudu harus dikontrol iya gak! sering juga sih dia ngebayangin punya keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, lengkap dengan anak kecil yang lucu2 (duileee!) Tetapi saat ini, icha merasa tidak sreg dengan orang yang melamarnya. Meski secara pribadi ia kenal faisal sejak SMA. Eh..Sekedar tahu aja ya. Dulu mereka memang pacaran. Bahkan dinobatkan sebagai the couple of the year saat perpisahan sekolah. Tapi itu dulu waktu zaman jahiliyah non, nah.. Setelah semester 2 di perguruan tinggi, hubungan mereka putus. Saat itu, icha mulai kenal dengan kajian islam. Ia pun tahu, bahwa berkhalwat dan pacaran itu hukumnya haram. Awalnya icha kenal dakwah Cuma karena sering sholat di mushollla akhwat. Trus Kenalan dengan Kak Yulia, PJ akhwat yang paling disegani disana. Bagaimana tidak disegani? Seniornya ini adalah aktivis kampus, mahasiswi teladan, dan calon dosen di Fakultasnya. Sudah banyak yang melamarnya. (Mungkin aja karena factor facenya. mengingatkan orang.pada kareena kapoor. Aktris bollywood. Bikin kaum adam antree... iya Ding!. Zerius). Tetapi sering ditolak dengan halus. Alasannya klise, mo berkarir dulu. Padahal Icha tahu. Sebenarnya Seniornya itu punya kriteria khusus tentang calon pendamping. Beliau menyukai ikhwan yang pemikiran, dan perasaannya sesuai syara', begitupun Aqliyah dan nafsiyahnya. Agar mereka bisa tetap bahu-membahu dalam aktivitas dakwah.. laki2 seperti itu sangat sulit kutemui. Seperti mencari jarum dalam jerami. Kita hanya bisa berdoa & berusaha dik!.Tapi yakinlah jodoh di tangan allahucap kak yulia bijak.
Sore itu icha ingin lekas pulang, kuliah pak jabir tentang ekonomi pembangunan tidak lagi menarik untuknya. Sampai dikamar. setelah sholat ashar, ia pun duduk di meja belajarnya. Masih terngiang kata2 faisal beberapa hari yang lalu cha, dalam waktu dekat ini orangtuaku akan datang dari Amrik. So.. gua mo ngajak beliau untuk ketemu ortumu buat ngelamarkata ical. Saat itu ica diam saja. Ayah ical memang konglomerat yang lebih banyak di luar negeri. Perusahaannya tersebar di Indonesia. Maklum., rekanannya Aburizal Bakrie.
Andai saja,.andai sajakata2 ical itu didengarnya beberapa tahun lalu. saat ia masih liberal & sekuler. saat ia belum memakai jilbab besar, saat ia belum mengenal dakwah dan harakah, saat ia masih mencari jati dirinya. Mungkin ia akan menerima ical. Tapi sekarang?...
Saat ini icha merasa masih banyak yang belum ia lakukan, ia merasa masih belum siap. Tapi yang utama. ia tidak bisa menerima faisal dari segi akhlak dan kepribadiannya. Baginya lelaki yang ia dambakan adalah lelaki yang bisa mengayominya dunia dan akhirat. Ia teringat kata kak yulia, murabbinya mencari pendamping hidup itu tidak gampang, seidealnya lelaki adalah yang paham tentang agama, sebab dari sanalah kebahagiaan hakiki akan terpancar pesan beliau suatu hari sehabis halaqah Kitab Nizhamul Ijtima'i. Hati icha senantiasa berdesir membayangkan ada lelaki seperti itu. Sebenarnya ada satu hal lagi, irfan, temannya. sesama aktivis dakwah, aktif disenat, berotak cemerlang, mahasiswa sederhana, agak pemalu.& senantiasa menjaga iffahnya. Yang ini diakui betul oleh icha. Sebab ia pernah berpapasan dengan irfan, icha pun menegurnya sebab ada keperluan, waktu itu seakan-akan ada tabir yang berada diantara mereka, sampai2 orang disekitar mereka saat itu menyangka mereka sedang musuhan!. Masya allah..,andai saja mereka tahu, perintah menundukkan pandangan, gumam icha dalam hati.
Sebenarnya irfan juga tidak kalah facenya. Sejak dulu sudah lama jadi pembicaraan dikalangan cewek. Masalahnya simple! babyfacenya itu yang mirip won bin. Bikin gak kuat kaum hawa.serius 100 prosen!!
Malam itu icha tidak bisa tidur. Baru jam 1 dini hari ia terlelap. Azan zubuh membangunkannya dari pembaringan. Seketika itu ia bangkit, berwudhu, dan sholat . Dalam doanya ia bermunajat kpd allah ya allah! Ya tuhanku! Tunjukkanlah jalan keselamatan untukku, tunjukkanlah padaku pilihanMu, akuberlindung kepadaMu , dari hawa nafsuku, dan aku berlindung kepadamu dari keputusanku dan bisikan syaitan !!. ungkap icha penuh khusyu.
Sebulan sejak saat itu, ia sudah terlupa, dan mulai menyibukkan diri lagi dengan aktivitas dakwah, halaqah,bersama teman-teman dimajelisnya. Menulis tulisan di mading dan membaca kitab nizamul iijtima'i fil islam mnya syekh taqiyuddin, sedikit banyak membuatnya lupa dari masalah. Baginya,aktivitas dakwah menenangkan jiwa dan perasaanya, dari rutinitas kuliah & dilema yang dihadapinya. sejak aktif dalam harakah dakwah beberapa tahun lalu, icha seakan menemukan jati dirinya. Ia tahu bahwa keberadaan manusia diatas bumi ini. bukan untuk mengejar kepuasan individu semata, tetapi juga kewajiban untuk berjamaah, dan berjuang menegakkan syariat islam. Ia tidak ingin menjadi wanita yang bodoh ditengah ummat, diperbodoh zaman, sama dengan wanita kebanyakan.ia inigin seperti aisyah ra, wanita shalihah ummul mukminin, cerminan kesucian, kehormatan, & keberanian. sekaligus mencapai karir & cita-citanya sebagai seorang ekonom.
Ayahnya sendiri punya perusahan tekstil. meskipun tidak begitu besar, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, tongkat estafet pemimpin keluarga mau tidak mau harus diterimanya, meskipun ia wanita satu-satunya. Ibunya sendiri sudah lama tiada. Sejak ia masih SMP. Ia masih ingat ketika wawan, adik keduanya lahir. Ibunya dilarikan ke ICU. Karena perdarahan hebat. Sejak saat itu mereka hidup tanpa belaian kasih ibu. Ayahnya seorang yang bertanggung jawab. Tidak mau menikah lagi. Ia berjanji akan tetap setia pada isterinya. Ia membesarkan ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang.
Hari itu cuaca bulan desember cukup cerah. suasana masih pagi ketika icha bersiap-siap pergi kekampus. Saat ia membuka pintu depan. Ia kaget melihat faisal sudah nankring di depan pagar. diatas mobil opel blazernya. Ical memanggil Hai icha!, mo ke kampus yah... Yuk sama2 sahut ical sambil memmbukakan pintu depan mobilnya, Icha tersenyum Ah..makasih yach tapi ana udah janjian dengan dewi tolak ica halus. Ical tersenyum nakal yah sudah anak manis!, gua gak akan maksa. tapi ntar kalo gua udah jadi suami kamu, ente gak akan nolak lagi kan! ujar ical. Icha hanya diam saja. Tak bisa menggambarkan suasana hatinya saat itu. Sampai ical menderumkan mobilnya. Mobil itu baru saja belok di tikungan jalan ketika Dewi, teman akrabnya, datang. Dewi kaget ada apa ya? Kok tumben-tumbenan! Sih ical ke rumah antum pagi2? Icha pun menjawab sekenanya tadi dia ada perlu dengan ana!, jadi dia nyamperin sampe kerumah! Gitu non ujar icha beralasan. Dia memang tak mau ada orang lain tahu tentang masalahnya. Oh gitu yaah..gumam dewi berkelakar.
Icha! besok ada mashirah ke gedung DPRD, ikut yah ajak dewi lagi. Ketika mereka sudah diatas angkot. Icha jadi semangatinsya allah wi!, klo untuk kepentingan umat sih, no doubt, wajib!! ujarnya berkelakar. ha..ha..ha. Mereka pun tertawa bersama sampai2 mengherankan penumpang lain.
Hari itu, setelah jam pertama. kuliah pak daus tentang ekonomi makro lagi kosong, anak2 pada riuh bersorakan, ditengah keriuhan itu, tampil irfan kedepan ruangan sambil mengambil mikrofon assalamualaikum wr wb ucapnya berwibawa. Disertai senyumnya yang khas Teman2 yang kami hormati. Kami dari hizbut tahrir Indonesia mengundang teman-teman dalam aksi umat menentang sekularisme dan kapitalisasi pendidikan sahut irfan, Acara ini bersifat nasional. Dalam rangka menentang kebijakan pemerintah yang menyakiti umatTambah irfan lagi. kumpul jam 8 pagi di halaman mesjid agung. kita akan longmarch dari mesjid Agung, sampai ke depan gedung kantor DPRD wilayah semarang, kehadiran teman-teman sangat kami harapkan. demi suksesnya acara umat kali ini!! billahit taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr.wb ucap irfan dgn khidmat. Icha hanya bisa menundukkan mata melihat irfan di hadapannya. Baginya irfan adalah sosok pria ideal di hatinya.
Keesokan paginya sejak jam 8 pagi. Halaman mesjid sudah dibanjiri oleh peserta masiroh dari segala penjuru kota. Tepat pukul 9 massa mulai bergerak menuju kedepan gedung DPRD, peserta kali ini cukup membludak, barisan ikwan didepan, disusul barisan akhwat, dan kendaraan bermotor di belakang, hari itu peserta mencapai puluhan ribu orang, membanjiri kota, tetapi tidak sampai memacetkan jalan raya. Panitia mashirah tampak kewalahan menjaga barisan agar tetap rapi. Ada yang bertugas dokumentasi, ada yang sebagai orator, ada yang menebar selebaran & pamflet. semuanya melebur dalam aksi, tak terkecuali irfan yang diserahi tugas sebagai orator oleh mahliyahnya, memberi semangat kepada peserta mashirah. allahu akbar!... Allahu akbar!!!.... Saudaraku sekalian!!! panasnya hari ini, tentu belum seberapa dengan panasnya api neraka, yang akan membakar kalian, jika tidak bangkit dan menentang hokum kufur, hukum sekuler. allahu akbar!,allahu akbar! Takbir irfan. sembari membakar semangat jamaah hari itu.
Siang hari aksi dihentikan. setelah utusan peserta mashirah bertemu dengan anggota DPRD, sambil membacakan surat peryataan sikap. Tepat jam 1 siang selepas zuhur massa pun bubar.
Hari itu, Sesampai di rumah icha merasa sangat kelelahan sampai-sampai tidak mendengar suara bik inah. Wanita separuh baya yang sudah lama ikut dirumahnya. dari luar kamar membangunkannya. icha ichaa, bangun ada telepon!ujar bi inah, dari siapa bi! tanya ica sambil bermalas-malasan di kasur. Pikirnya itu pasti ical. Soalnya belakangan ini dia memang rajin nelpon icha.dari irfan non, katanya ada yang penting tuh. seru bi inah. Icha kaget Irffan nelfon? Ada apa ya? Tanya icha dalam hati.. Soalnya baru kali ini irfan menelponya. Seakan terloncat dari pembaringan, icha bergegas keluar kamar, menuju meja telepon, halo! Assalamualaikum,sahut ica.
terdengar suara dari seberang walaikum salam! ,terdengar suara menimpali halo! ini irfan, afwan! Ukhti, ana cuman mo nyampein pesan bisa gak kita ketemu besok di mushalla? sahut suara dari seberang. ada apa ya?ujar icha diplomatis , ada yang penting ingin ana sampaikan lanjut irfan. sedikit memaksa. OK deh jam 1 ba'da zuhur ya ..sahut icha. OK chasyukron. ya wass.ujar irfan. sambil menutup pembicaraan. Seharian itu. Icha bertanya2. Entah apa yang irfan ingin sampaikan. Esok harinya selepas kuliah terakhir. Icha bergegas ke musholla. tepat jam 1 siang, selepas sholat zuhur di musollah, satu persatu jamaah meninggalkan ruangan, icha menungggu cukup lama. sampai2 icha mengira, irfran lupa dengan janjinya.
Saat itu ia sudah mulai beranjak keluar pintu. ketika terdengar suara yang sangat dikenalnya dari balik hijab. Assalamualikum. Afwan! Ada icha di sebelah? Tanya suara dari balik hijab. Wass. Iya!.... ini ana sendiri ujar icha. Alhamdulliillah icha, ini irfan. Maaf terlambat soalnya ada halaqah dengan MABA ujar irfan apologis. gak pa-pa. Belum lama kok!sergah icha meredam suasana yang agak kaku. Irfan menimpali afwan! gini loh, ana ingin sampaikan masalah adik saya latifah, dia juga ingin aktif dalam kajian dakwah kita, hanya saja ana kesulitan mencari musrifah untuknya, soalnya adik ana hanya ingin musrifah yang khusus... sahut irfan penuh tanda tanya. ana berharap ukhti berkenan menjadi musrifahnya ujar irfan. Oh ya, kalau itu, insya allah dengan senang hati ana gak keberatan, ana bersedia jadi murabbinya. ntar! latifah bisa mulai sabtu ini. Kebetulan Antum tahu kan ruangan tempat akhwat biasa halaqah?. Antar aja kesana. Nanti ana tungguin di sana. Okey!, oh ya.. apa sih maksud akhi dengan khusus tadi?, ana masih gak ngerti. sahut icha penasaran. Hmmm Sambil malu2 irfan menimpali, oh itu., afwan ukhti!! Sekali lagi afwan. adikku cuman ingin,akwat yang menjadi murabbinya itu, adalah wanita pilihanku, dalam arti calonku..ujar irfan meyakinkan. Terhenyak rasa hati icha, entah kaget, . entah gembira , mendengar penjelasan irfan. Dari bahasannya tadi, irfan bersungguh-sungguh. Tak kuasa air matanya menetes. membasahi pipi icha yang putih bersih. Hari itu seakan-akan allah menjawab doanya. antum masih ada disebelah ya? tanya irfan merasa tidak di tanggapi, icha tersadar Eh iya!.., tapi tunggu fan, antum serius ya!....ucap ica dengan nada gembira. Kalo antum sungguh2, bersumpahlah atas nama allah!ujar icha meminta kepastian. irfan pun menimpali Demi Allah!, azza wa jalla hari ini menjadi saksi. Semoga allah mengazabku jika aku berdusta!. ucap irfan dengan tegas. Akhirnya Mereka pun berpisah sambil mengucapkan salam. Sebelumnya ical telah berjanji. untuk segera melamar icha usai mereka wisuda. Cuaca sore itu seakan menggambarkan perasaan hati icha, sampai2 bik inah ikut keheranan. melihat icha yang pulang. lain dari biasanya. Yah begitulah icha kadang murung eh..tiba2 aja langsung gembira.icha ha
yah.. Malam itu, sholat tahajjud icha sangat khusyu. dalam doanya, ia bermunajat kepada allah ya allah, janganlah engkau pisahkan aku dengan dakwah yang kucintai ini, sekalipun masa memintaku untuk meninggalkannya, ya allah anugerahkanlah kepadaku pasangan hidup yang engkau ridhoi menjadi pembimbingku dunia & akhirat. Dia menyayangiku dan aku punmenyayanginya. Ya Allah, Kekalkanlah kami dalam dakwah. Amin Ya rabbal alamin !. Selesai sholat ia pun bertafakur di atas sajadah. Entah esok atau entah lusa. Ia sudah menemukan jawaban dari doanya. Ia sudah mantap dengan pilihan hatinya. Malam itu seakan menjadi saksi. atas pilihannya, dalam hati ia berkata icha allah menyayangimu�sangat menyayangimu .(for another icha, he still waiting for u..).
CINTA TAK TERBATAS
Buat Adekku:makasih Tulisannya ya..
Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah menerima bunga mawar merah.Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya menggigil kedinginan atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor.(Deuh,Meteor Garden banget!He.....he).
Yah ,mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah menikah. Mungkin mudah-mudahan.Tapi sampai saatnya tiba,bagaimana caranya supaya tidak kotor hati?
Lalu saya pun tersadar tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah sering saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya dengan sayang? betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti mereka.Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya sebelum dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa melapangkan mereka ke surga.... Belum tentu bisa jadi kebanggaan.... Jangan-jangan hanya jadi beban....Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang menjaga saya yang tengah demam.... Dari ayah yang dulu berhenti merokok agar bisa membeli makanan untuk saya.... Dari teman yang beriring-iring menjenguk saya ketika dirawat dirumah sakit.... Dari adik yang memeluk saya ketika bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga lapar.... Dari Orang tua teman yang bersedia mengantar saya pulang larut malam.Betapa seringnya kita tidak menyadari....
Tidak hanya dari mahluk hidup.Kasih dari ciptaan Allah lainnya juga melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan tekanan yang pas. Sampai dari hal yang mungkin selama ini tidak terpikirkan .Saya pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet terbesar di tata surya kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi, seakan menarik Bumi agar tidak tersedot kearah matahari. Benda-benda langit yang akan menghantam Bumi juga ditarik oleh Jupiter. Kita dijaga! (Maaf buat anak astronomi kalau salah,tapi setahu saya sich kira-kira begitulah)
Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah. Duh.... Begitu banyaknya berbuat Dosa, Allah masih berbaik hati membiarkan saya hidup.... Masih membiarkan saya bersujud walau banyak tiada khusyunya. Padahal kalau ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja langsung dilemparkan ke neraka Jahannam.... Coba, mana ada sich kebutuhan saya tidak Allah penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan sampai tingkat tinggi. Anggota tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan. Diberi kehidupan. Apalagi yang kurang? tapi tetap saja, berbuat maksiat,dosa.... Malu....
Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini . Tapi bukankah itu bagian dari kasihNya juga? Bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan jika tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku yang diuji Allah dengan cobaan, yakinlah bahwa cara itu Allah mencintai kita. Pasti ada hikmahnya.Pasti!
Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja yang tidak pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan cinta yang begitu murni.
Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk membalasnya? kalau saya,(malu nich.... ) sepertinya masih sering menyakiti orang lain. sadar ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti, rasanya masih sering tidak peduli dengan orang lain. Apalagi pada Allah... Begitu besarnya cinta Allah pada saya dan saya masih sering menyalahgunakannya, Mata tidak digunakan semestinya.... Lisan kejam dan menyayat-nyayat.... Waktu yang terbuang sia-sia
Kalau sudah seperti ini,rasanya iri pada semua hal-hal yang berbau pacaran pra nikah? hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah. Siapa bilang saya tidak dicintai? memang tidak ada yang mengantar-antar saya kemana-mana, tapi Allah mengawal saya disetiap langkah. Tidak ada candle light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat menemani saya setiap makan malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah selalu memastikan kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?
Entah cinta yang resmi? itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi ingin rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi. Tulisan ini bukan untuk curhat nasional. Yah, siapa tahu ada yang senasib dengan saya, kita coba sama-sama. Jangan sampai ada cinta halal yang tak terbalas....CINTA UNTUK ALLAH
Arjuna dan Sang Bidadari
Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka mengikuti pengajian dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai yang masih muda dan berkharisma.Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.
Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna pasti akan pergi ke pondok pesantren.
Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan berikutnya, lalu berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum. Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun taxi yang mau berhenti.
Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.
Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya. Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren, serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut dirinya. Ajuna jadi lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang ke pengajian.
Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.
"Ibu, Arjuna kepingin kawin!" Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah kesunyian malam di telinga sang ibu.
"Arjuna enggak mimpi kan?" sang ibu bertanya sambil menguncangkan tubuh Arjuna yang tergolek lemah di tempat tidur.
" Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin."
Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris. "Jang, kamu teh mau kawin sama siapa?"
"Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah."
Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah. "Bener atuh, kalau memohon ya sama Allah."
Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan. Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.
Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. "Tapi, kalau nanti punya istri pasti biaya akan bertambah. Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur oleh Allah, tinggal kita yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa yang mau sama saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri."
"Pak Kyai, saya kepingin kawin!"
Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, "Wah bagus itu. Menikah kan sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk ibadah."
"Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang normal dan berjuang di jalan Allah."
"Arjuna mau menikah dengan siapa?"
"Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai."
Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-kali ia mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi Arjuna...?!
Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha. Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang gadis.
Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan Arjuna.
Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya berfisik tak sempurna. Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.
"Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?" tanya sang Kyai. "Ina sudah tahu apa resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?"
"Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga nantinya," kata sang gadis dengan mantap.
Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud. Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah mengabulkan permohonannya.
Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena grogi, tapi karena memang ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.
Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, "Kita harus banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan berani mengambil keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah." Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.
Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali, kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina juga selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.


